Senin, 08 Juli 2013

KESULITAN SISWA SD DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL MATEMATIKA



 



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mendengar tentang Matematika tidaklah asing lagi bagi kita, yang mana Matematika merupakan salah satu mata pelajaran dalam salah satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang diberikan kepada siswa mulai dari SD untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir secara logis, analitis, sistematis, dan kritis. Kompetensi tersebut diperlukan agar siswa dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Untuk mempelajari Matematika diperlukan suatu kecerdasan dan keuletan yang matang, karena mata pelajaran ini dianggap oleh sebagian besar siswa sebagai mata pelajaran yang sulit. Hal ini disebabkan siswa banyak yang sudah mengganggap bahwa Matematika itu adalah mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa malas untuk mempelajarinya. Bisa juga disebabkan oleh cara penyampaian guru terhadap materi yang diajarkan kurang menarik, sehingga siswa malas untuk mengikutinya. Oleh karena itu, prestasi Matematika siswa selalu berada di bawah mata pelajaran lainnya. Akan tetapi, perbaikan terhadap prestasi Matematika siswa terus dilakukan, baik dari segi materi maupun segi metode pengajarannya.
Jika dilihat dari segi kegunaan suatu ilmu dalam kehidupan manusia, maka Matematika mempunyai peran penting dalam bidang perdagangan, pertanian, pembangunan dan sebagainya. Sedangkan menurut polanya, menyelesaikan soal Matematika memuat empat (4) langkah pokok, yaitu :

1. Memahami masalah.
2. Menyusun suatu rencana penyelesaian.
3. Melaksanakan rencana penyelesaian itu.
4.Memeriksa kembali penyelesaian yang telah dilaksanakan (Rey, 1984 : 36).
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa empat (4) langkah pokok tersebut sangat mempengaruhi keberhasilan siswa untuk menentukan jawaban yang benar dalam menyelesaikan soal-soal Matematika yang sulit sekalipun.

Kenyataan inilah yang mendorong dan memotivasi penulis untuk memaparkan Karya Ilmiah yang berjudul :

KESULITAN SISWA SD DALAM MENYELESAIKAN SOAL-SOAL MATEMATIKA

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis dapat menyimpulkan rumusan masalahnya sebagai berikut :

1. Kesulitan apa saja yang dihadapi oleh siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika?

2. Apakah penyebab kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika?

3. Tindakan apa saja yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan Karya Ilmiah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika.

2. Untuk mengetahui penyebab kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika.

3. Untuk mengetahui tindakan-tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Belajar

Pengertian belajar menurut beberapa ahli adalah :

1. Belajar adalah suatu usaha untuk mencari pengertian, makna, dan pemahaman. Bila usaha ini gagal, maka anak akan gagal dalam pelajarannya (Dewa Ketut Sukardi, 1983 : 29).

2. Belajar adalah proses melibatkan manusia secara orang perorangan sebagai suatu kesatuan organisme sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Dimyata, 2002 : 156).

3. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (Abu Ahmadi, 1991 : 122).

Jadi dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses yang memungkinkan pada perubahan perilaku individu, baik yang alami maupun yang sengaja dirancang.

Untuk memperoleh hasil belajar yang memuaskan, maka setiap siswa harus mempunyai kesiapan belajar yang baik, karena kesiapan belajar ini adalah salah satu faktor berhasil atau tidaknya suatu pembelajaran di era perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini.

B. Pengertian Matematika dan Hakekat Matematika

Banyak ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang Matematika, namun sampai saat ini belum ada kesepakatan tentang definisi Matematika.

Matematika berasal dari bahasa Latin manthanein atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari. Dalam bahasa Belanda, Matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang semuanya berkaitan dengan penalaran. Sedangkan secara etimologi, Matematika berasal dari kata mathema yang berarti pengetahuan, matheis yang berarti mempelajari, dan mathein yang berarti belajar. Jadi, hakekat Matematika adalah ilmu tentang bagaimana mempelajari atau memahami pengetahuan (Jaelani, 1990 : 16).

Unsur utama Matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran suatu konsep atau pernyataan yang diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya, sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam Matematika bersifat konsisten. Namun, materi Matematika dan penalaran Matematika merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi Matematika dipahami malalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi Matematika.

Pada pembelajaran Matematika, pemahaman konsep sebaiknya diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi. Proses induktif – deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep Matematika. Prinsip pembelajaran Matematika tersebut diharapkan akan membentuk sikap siswa yang kritis, kreatif, jujur, dan komunikatif.

C. Kesulitan Siswa SD dalam Menyelesaikan Soal-Soal Matematika

Pada umumnya “kesulitan” merupakan kondisi tertentu yang ditandai dengan adanya hambatan-hambatan dalam kegiatan untuk mencapai suatu tujuan, sehingga memerlukan usaha yang lebih berat lagi untuk dapat mengatasinya. Kesulitan belajar dapat diartikan sebagai suatu kondisi dalam proses belajar yang ditandai oleh adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menghasilkan hasil belajar. Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kesulitan belajar adalah keadaan dimana siswa mengalami hambatan dalam belajar, sehingga tidak memenuhi harapan-harapan yang diinginkan dalam berbagai jenis mata pelajaran termasuk Matematika.

Kesulitan-kesulitan tersebut dapat disebabkan oleh masalah karakteristik Matematika, masalah siswa, ataupun masalah guru.

1. Karakteristik Matematika

Karakteristik Matematika yaitu objeknya abstrak, konsep dan prinsipnya berjenjang, dan prosedur pengerjaannya banyak memanipulasi bentuk-bentuk. Siswa memerlukan waktu dan peragaan dalam menangkap konsep yang abstrak itu. Siswa akan mengalami kesulitan dalam mempelajari konsep berikutnya, jika konsep yang sebelumnya tidak terbentuk dengan benar.

2. Masalah siswa

Setiap siswa mempunyai kecepatan belajar yang berbeda-beda dan gaya belajar yang berbeda pula. Mereka mempunyai kecenderungan untuk membentuk konsep sendiri yang akhirnya membentuk miskonsepsi. Selain itu, mereka juga kurang dalam latihan mengerjakan soal-soal Matematika.

3. Masalah guru

Setiap guru mempunyai persepsi sendiri tentang Matematika, hakekat belajar, dan mengajar. Mereka mempunyai gaya mengajar atau metode mengajar sendiri. Selain itu, mereka juga mempunyai keterbatasan pengetahuan dan keterampilan (Mohammad Soleh, 1998 : 34 – 39).

D. Penyebab Kesulitan Siswa SD dalam Menyelesaikan Soal-Soal Matematika

Dalam kegiatan belajar yang dilakukan siswa, tidaklah selalu lancar seperti apa yang diharapkan. Kadang-kadang mereka mengalami berbagai kesulitan atau hambatan yang harus dihindari. Dan pengaruh tersebut sebaiknya bukanlah faktor penghambat yang harus dihindari, tetapi harus dicari jalan penyelesaian yang terbaik dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang ada, sehingga prestasi yang diharapkan bisa tercapai.

Adapun penyebab kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika dibagi menjadi dua (2) faktor, yaitu :

1. Faktor Endogen
Faktor endogen adalah faktor yang datang dari dalam diri anak itu sendiri.

a. Biologis
Faktor penghambat biologis adalah faktor yang secara langsung berhubungan dengan jasmani anak, seperti kesehatan, cacat badan, dan sebagainya.
b. Psikologi
Faktor penghambat psikologi adalah faktor yang berhubungan dengan kejiwaan atau rohani yang berupa IQ, motivasi, intelegensi, perhatian, minat, bakat, dan emosi.

2. Faktor Eksogen
Faktor eksogen adalah faktor yang datang dari luar maupun dalam diri anak itu sendiri.
a. Faktor lingkungan keluarga
Contohnya : orang tua, suasana rumah, dan keadaan sosial ekonomi.
b. Faktor lingkungan sekolah

Lingkungan sekolah bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan hambatan dalam kegiatan belajar siswa. Faktor tersebut antara lain :

(1) Interaksi guru dan siswa

Guru yang kurang berinteraksi dengan siswa menyebabkan proses belajar Matematika itu kurang lancar. Siswa merasa ada jarak dengan guru, maka mereka akan sulit untuk berpartisapasi aktif kegiatan belajar Matematika.

(2) Metode belajar mengajar

Dalam kegiatan belajar, siswa menggunakan cara belajar yang keliru, yaitu bila besok ada ulangan barulah mereka belajar terus menerus dari siang sampai malam yang biasa disebut dengan sistem wayangan. Dalam metode pengajaran, kesalahan guru dalam pemilihan metode yang tidak tepat dalam menyampaikan materi juga dapat menyebabkan siswa sulit untuk belajar Matematika, misalnya metode ceramah.

c. Faktor lingkungan masyarakat

Contohnya : media massa (TV), teman bergaul, kegiatan masyarakat, dan cara hidup berkeluarga.

Selain faktor endogen dan eksogen, ada dua (2) alternatif mengapa siswa tidak dapat mencapai tingkat penguasaan yang diharapkan dalam menyelesaikan soal-soal Matematika, yaitu :

1. Siswa tidak disediakan waktu yang cukup.
2. Siswa tidak menggunakan sepenuhnya waktu yang disediakan.

Dengan demikian, tingkat penguasaan belajar siswa sangat tergantung kepada waktu.

E. Tindakan-Tindakan yang Harus Dilakukan untuk Mengatasi Kesulitan Siswa SD dalam Menyelesaikan Soal-Soal Matematika

Secara operasional, tindakan-tindakan yang dilakukan untuk mengatasi kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika tersirat dalam GBPP Matematika SD tahun 1986, sebagai berikut :

1. Mempersiapkan anak didik agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dan didalam dunia yang senantiasa berubah ini, melalui bertindak atas dasar pemikiran secara logis dan rasional, kritis dan cermat, obyektif, kreatif, dan efektif.

2. Mempersiapkan anak didik agar dapat menggunakan Matematika secara tepat di dalam kehidupan sehari-hari dan didalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.

Selain itu, pemilihan metode pengajaran yang tepat bagi guru merupakan salah satu tindakan mengatasi kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika. Hal ini mengingat bahwa metode pengajaran merupakan komponen yang sangat penting dan membantu guru dalam proses belajar mengajar. Penerapan metode pengajaran ini dilaksanakan secara bervariasi. Adapun metode pengajaran yang sering digunakan dalam mata pelajaran Matematika adalah sebagai berikut :

1. Metode Tanya Jawab
Metode ini adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadi komunikasi langsung yang bersifat two traffic, sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dan siswa.

Hal-hal yang diperhatikan dalam metode tanya jawab adalah :

a. Tujuan yang akan dicapai dari metode tanya jawab, antara lain :
(1) Untuk mengetahui sejauh mana materi pelajaran telah dikuasai siswa.
(2) Untuk merangsang siswa berpikir.
(3) Memberi yang belum dipahami.


b. Jenis kesempatan pada siswa untuk mengajukan masalah pertanyaan ingatan dan pertanyaan pikiran.

(1) Pertanyaan ingatan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan sudah tertanam pada siswa.
(2) Pertanyaan pikiran, untuk mengetahui sejauh mana cara anak untuk berpikir dalam menanggapi suatu pertanyaan.

c. Teknik mengajukan pertanyaan
(1) Perumusan pertanyaan harus jelas dan terbatas, sehingga tidak menimbulkan keragu-raguan pada siswa.
(2) Pertanyaan hendaknya diajukan pada kelas sebelum menunjuk kelas untuk menjawabnya.
(3) Beri waktu pada siswa untuk memeriksanya.
(4) Hargailah pendapat dari siswa.
(5) Distribusi atau pemberian pertanyaan harus merata.
(6) Buatlah ringkasan hasil tanya jawab, sehingga memperoleh pengetahuan secara sistematik.

Metode tanya jawab mendorong siswa untuk aktif dan dengan metode ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya tentang pelajaran yang belum dipahaminya, yang baru saja dipelajari di sekolah.

2. Metode pemberian tugas
Metode pemberian tugas, karena bahan pelajaran banyak sementara waktu sedikit. Tugas yang diberikan kepada siswa bergantung pada tujuan yang akan dicapai.

Adapun langkah-langkah metode ini adalah :
a. Fase pemberian tugas
Tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya mempertimbangkan :
(1) Tujuan yang akan dicapai.
(2) Jenis tugas yang jelas dan tepat, sehingga anak mengerti apa yang ditugaskan tersebut.
(3) Sesuai kemampuan siswa.
(4) Ada membantu pekerjaan siswa, petunjuk/sumber yang dapat dipakai dalam menyelesaikan tugas itu.

(5) Sediakan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas tersebut.

b. Fase siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh, dengan langkah pelaksanaan tugas sebagai berikut :

(1) Diberikan bimbingan/pengawasan oleh guru.
(2) Diberikan dorongan sehingga anak mau bekerja.
(3) Diusahakan/dikerjakan oleh siswa sendiri.
(4) Dianjurkan agar baik dan sistematik.

c. Fase mempertanggungjawabkan tugas

Hal-hal yang perlu dikerjakan dalam fase ini adalah :
(1) Laporan siswa baik lisan maupun tertulis dari apa yang telah dikerjakan.
(2) Ada tanya jawab/diskusi kelas.
(3) Penilai hasil pekerjaan siswa baik dengan tes maupun nontes cara lainnya.

Penggunaan metode pemberian tugas sangat berguna bagi siswa, dimana memacu siswa untuk belajar dan membantu dalam pemahaman materi. Dengan tugas ini, siswa berusaha mencari jawaban atas permasalahan-permasalahan atau soal-soal yang diberikan guru pada siswa. Dengan tersebut diatas, maka akan membantu siswa untuk mengembangkan kreasinya, serta membina kedisiplinan, sehingga atas tugas yang diberikan oleh guru.

3. Metode demonstrasi

Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan.
Metode ini digunakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses mengatur sesuatu, proses pekerjaannya, penggunaannya, komponen-komponennya yang membentuk sesuatu, membandingkan suatu dengan cara lain, dan untuk mengetahui atau melihat kebenaran sesuatu.

Jadi, demonstrasi yang dimaksud adalah suatu metode mengajar yang memperlihatkan bagaimana proses terjadinya sesuatu.
Petunjuk penggunaan metode demonstrasi, yaitu :
a. Persiapan
b. Pelaksanaan
c. Tindak lanjut

Penerapan metode ini untuk memperjelas, untuk memahami apa yang telah dipelajari, misalkan menerangkan sambil menunjukkan bendanya.

4. Metode diskusi
Diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada siswa (kelompok-kelompok siswa) untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan, serta menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah. Metode ini cocok digunakan dalam mengajar Matematika, tetapi metode ini hanya dapat diterapkan pada satuan tingkat pendidikan yang tinggi, seperti SMP dan SMA, tidak untuk siswa SD.

5. Metode kerja kelompok

Kerja kelompok adalah salah satu proses belajar mengajar yang memiliki kadar CBSA. Dalam pelaksanaannya, metode kerja kelompok menuntut kondisi serta persiapan yang jauh berbeda dengan format mengajar yang menggunakan pendekatan ekspositorik, misalnya ceramah. Bagi mereka yang belum terbiasa dengan metode ini akan memerlukan waktu untuk berlatih. Metode ini sangat tepat digunakan dalam mengajar Matematika, karena siswa akan paham jika dapat berkelompok dan mengekspresikan diri dan pikirannya dalam pemecahan masalah yang sulit sekalipun.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil keseluruhan dalam Karya Ilmiah ini, maka penulis dapat menarik kesimpulan, sebagai berikut :

1. Pada umumnya, kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika disebabkan oleh masalah karakteristik Matematika, masalah siswa, dan masalah guru.
2. Kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika disebabkan oleh faktor endogen dan faktor eksogen, serta masalah waktu.
3. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan dalam mengatasi kesulitan siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika adalah mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan, melalui bertindak atas dasar pemikiran secara logis dan rasional, kritis dan cermat, obyektif, kreatif, dan efektif, serta penggunaan metode mengajar yang tepat dalam proses belajar mengajar dengan memperhatikan karakteristik siswa.

B. Saran

Berdasarkan hasil keseluruhan dalam Karya Ilmiah ini, maka ada pandangan penulis yang sekiranya dapat diangkat sebagai saran, baik untuk guru ataupun siswa, yaitu :

1. Guru
a. Guru hendaknya dapat memahami secara mendalam tentang faktor-faktor penghambat yang menyebabkan sulitnya siswa SD dalam menyelesaikan soal-soal Matematika.
b. Guru diharapkan pada nantinya harus menggunakan metode mengajar yang tepat, karena setiap mata pelajaran yang ada disekolah, metode mengajar yang digunakan berbeda-beda, serta harus disesuaikan dengan kemampuan dan karakteristik siswa.

2. Siswa
a. Siswa hendaknya untuk lebih banyak berlatih mengerjakan soal-soal Matematika, serta harus merubah cara belajarnya.
b. Siswa hendaknya menggunakan waktu seoptimal mungkin yang diberikan oleh guru dalam menyelesaikan soal-soal Matematika.





DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Widodo Supriyono. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Darkir. 1978. Dasar-Dasar Psikologi. Yogyakarta : IKIP Yogyakarta.

Dimyanti. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : PT. Rineka Cipta.

Johnson. 1966. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Gramedia.

Koesmartono dan Rawuh. 1972. Matematika Pendahuluan. Bandung : ITB.

Rey. 1984. Prinsip dan Teknik Belajar. Jakarta : Polya.

Rika Joni, T. 1984. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta : UGM.

Sudjana, Nana. 1990. Identitas Kesulitan Belajar Matematika. Jakarta : Gramedia.

Suwarno. 1982. Dasar dan Teknik Interaksi Belajar Mengajar. Bandung : Transito.

Syaikat, Tatik. 2000. Jenis-Jenis Kesulitan Siswa SD dalam Belajar Matematika. Semarang : IKIP Semarang.

Syaikal, Umar. 2003. Kalimat Efektif. Bandung : Bumi Aksara.

Eng Kiat, Teh, dkk. 1992. Metode Belajar Mengajar. Malaysia : Pelangi SDN BHD.

Tim Penyusun Buku Matematika SD. 1994. Matematika SD. Semarang : UNDIP.

Zahri, Andi. 2001. Faktor-Faktor Kesulitan Belajar. Jakarta : Bumi Aksara.

Zuhro, Romli. 1998. Kalimat Efektif dan Teknik Menulis Makala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar