Kamis, 15 Desember 2016


Sunan Ampel

Nama Tokoh   : Sayyid Ali Rahmatullah (Raden Rahmat)
Lahir                : Tahun 1401 Masehi
Nama Ayah     : Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
Nama Ibu        : Dewi Chandrawulan
Meninggal       : Tahun 1478 Masehi
Latar Belakang Sunan Ampel
Sunan Ampel dilahirkan di negeri Champa (Sepanjang pantai Vietnam). Negeri Champa diketahui berdiri pada tahun 192 Masehi. Sampai sekarang masih ada komunitas masyarakat Champa di Vietnam, Thailand, Kamboja, Malaysia dan Pulau Hainan (Tiongkok). Ayah Sunan Ampel merupakan Sunan Gresik yaitu keturunan Syekh Jamalluddin Jumadil Kubra atau seorang Ahlussunnah bermazhab syafi’i. Syekh Jamalluddin merupakan ulama yang berasal dari Samarqand, Uzbekistan. Samarqand merupakan daerah dilahirkannya Ulama-Ulama besar. Salah satunya adalah Imam Bukhari yang dikenal sebagai pewaris hadist yang shahih.
Kisah Perjuangan Sunan Ampel
Pada suatu waktu, Kerajaan Majapahit digeluti oleh masa yang suram karena banyak adipati dan bangsawan yang berpesta wanita dan berjudi. Prabu Brawijawa sebagai raja merasa sedih mengetahui keadaan kerajaan kacau seperti itu. Lalu istri Prabu mengusulkan mendatangkan seseorang yang mampu mengatasi masalah-masalah seperti itu, yaitu keponakannya sendiri Sayyid Ali Rahmatullah. Akhirnya raja menyetujui mendatangkan keponakan istrinya tersebut.
Setelah Majapahit mengirim utusan untuk menjemput Sayyid Ali Rahmatullah, tibalah Sayyid bersama ayah dan kakaknya di tanah Jawa. Namun mereka berpisah selama diperjalanan. Ayah dan kakaknya berhenti di daerah Tuban untuk beristirahat dan berniat berdakwah didaerah tersebut. Kemudian Sayyid tetap melanjutkan perjalanan dan akhirnya tiba di Majapahit. Sambutan yang hangat dari Prabu Brawijaya menghampiri Sayyid. Setelah Sayyid melepas lelah, Prabu menjelaskan sebab Sayyid dipanggil ke Majapahit. Kemudian Sayyid memahami dan sanggup menjalankan tugas dari Prabu Brawijaya. Setelah menerima tugas dari Prabu, Sayyid diberi sebuah tempat untuk mendidik bangsawan dan adipati. Kemudian Sayyid dijodohkan dengan putri Prabu yaitu Dewi Condrowati. Sehingga Sayyid Ali menjadi pangeran kerajaan Majapahit karena menjadi menantu Prabu Brawijaya. Karena dalam keluarga kerajaan Majapahit menyebut pangeran dengan sebutan “Raden”, maka Sayyid Ali Rahmatullah dikenal dengan Raden Rahmat. Raden Rahmat segera mendidik dan menyadarkan para bangsawan dan adipati menuju ke jalan yang benar. Setelah berbagai cara dilakukan, akhirnya Raden Rahmat berhasil dan melanjutkan niatnya untuk berdakwah dalam masyarakat. Tentu Raden Rahmat diterima masyarakat dengan baik karena telah menyadarkan Adipati dan bangsawan di kerajaan Majapahit.
Saat melaksanakan dakwah di lingkup masyarakat, Raden bertemu dengan dua tokoh masyarakat yang mau menjadi pengikut Raden Rahmat. Yaitu Ki Wiryo Sarojo dan Ki Bang Kuning. Raden memanfaatkan keadaan ini untuk dakwah bersama dua tokoh ini. Sehingga sangat mudah bagi Raden Rahmat untuk mengajarkan ilmu-ilmu Islam. Saat Raden Rahmat berjalan menyusuri desa, Raden tiba di sebuah tempat yang kosong. Raden segera membangun masjid untuk beribadah bagi masyarakat. Daerah tersebut dikenal dengan Ampeldenta. Karena Raden Rahmat diberi kekuasaan di daerah tersebut, Raden Rahmat akhirnya dikenal dengan Sunan Ampel.
Cara Berdakwah Sunan Ampel
Cara yang ditempuh Sunan Ampel sangat singkat dan cepat, antara lain adalah dengan dikenalnya falsafah Moh Limo. Falsafah tersebut yaitu :
  1. Moh Main (tidak mau berjudi).
  2. Moh Ngombe (tidak mau mabuk karena minum minuman arak).
  3. Moh Maling (tidak mau mencuri).
  4. Moh Madat (tidak mau merokok atau menggunakan narkotika)
  5. Moh Madon ( tidak mau  bermain dengan perempuan yang bukan istrinya)
Peninggalan-Peninggalan Sunan Ampel
  1. Masjid Sunan Ampel
  2. Pusaka-Pusaka Sunan Ampel
  3. Keris Setan Kober










Sunan Drajat

Nama Tokoh   : Raden Qasim (Raden Syarifudin)
Lahir                : Tahun 1470 Masehi
Nama Ayah     : Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
Nama Ibu        : Nyi Ageng Manila (Dewi Candrawati)
Meninggal       : Tahun 1522 Masehi
 Latar Belakang Sunan Drajat
Sunan Drajat merupakan putra dari Sunan Ampel yang terkenal sebagai anak yang cerdas. Nama asli Sunan Drajat adalah Raden Qasim atau juga dikenal Raden Syarifudin. Raden Qasim merupakan adik dari Sunan Bonang. Sejak kecil, Raden Qasim selalu menghabiskan waktu bermainnya di daerah asalnya yaitu Ampeldenta. Saat menginjak dewasa, Raden Qasim ingin seperti kakaknya yang telah dikirim ke Tuban untuk berdakwah. Raden selalu mempelajari semua ajaran-ajaran Islam untuk dikuasai. Setelah menguasai pelajaran Islam, Raden Qasim segera mencari tempat untuk berdakwah. Tempat yang di ambil dan dijadikan pusat kegiatan dakwahnya adalah di desa Drajat, Kabupaten Lamongan. Raden Qasim selain berdakwah juga menjadi pemegang kendali otonom kerajaan Demak kurang lebih selama 36 tahun.
Karena kerberhasilannya menyebarkan agama Islam dan mampu memakmurkan kehidupan masyarakat, Raden Qasim mendapatkan gelar Sunan Mayang Madu dari Sunan Demak pada tahun 1520 Masehi.
 Kisah Perjuangan Sunan Drajat
Raden Qasim bersama para santri menuju ke Gresik untuk melaksanakan tugas dakwah ayahnya. Sebelum sampai di Gresik, Sunan Drajat bersilahturahmi kepada Sunan Giri. Dia memberitahu kepada Sunan Giri bahwa dia diutus ayahnya untuk berdakwah di daerah pesisir utara. Sunan Giri sangat senang mendengar bahwa Raden Qasim diutus untuk berdakwah ke pesisir utara. Kemudia Sunan Giri memberikan beberapa nasehat agar kedatangannya dapat diterima dengan baik oleh masyarakat pesisir utara.
Sunan Drajat kemudian melanjutkan perjalanannya. Setelah beberapa hari akhirnya Sunan Drajat sampai di pesisir pantai dan bertemu dengan nelayan yang sedang melaut. Sunan Drajat menjelaskan berbagai macam jenis ikan yang bisa dimakan dan ikan yang berbahaya jika dimakan. Setelah mendengar penjelasan dari Sunan Drajat, para nelayan akhirnya mengerti dan percaya apa yang dikatakan oleh Sunan Drajat. Disinilah Sunan Drajat mulai percaya diri untuk berdakwah di Gresik yang masih kental dengan agama Hindu.
Setelah melakukan perjalanan jauh, akhirnya Raden Qasim sampai di sebuah desa yang bernama desa Drajat. Raden Qasim kemudian menjadikan pusat dakwahnya di daerah ini.
Di desa Drajat banyak kegiatan-kegiatan islami yang membuat masyarakat Hindu penasaran dan ingin tahu apa yang dilakukan Sunan Drajat bersama santri-santrinya. Sehingga dengan kecerdasan Sunan Drajat masyarakat Hindu mempu tertarik dengan metode dakwah Sunan Drajat yang memakai tembang Pangkur sebagai andalannya.
Cara Berdakwah
  1. Menggunakan metode kesenian
Kesenian yang dipakai Raden Qasim adalah tembang Pangkur.
  1. Menggunakan filosofi sendiri
Sunan Drajat dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga mempu membuat makna filosofi sendiri. Filosofi tersebut dikenal ke tujuh sap tangga. Berikut ini adalah bunyi filosofi :
–          Memangun resep tyasing Sasoma (selalu membuat hati orang lain senang)
–          Jroning suka kudu éling lan waspada (meski dalam suasana riang, kita harus tetap ingat dan waspada)
–          Laksmitaning subrata tan nyipta marang pringgabayaning lampah (dalam perjalanan untuk mencapai cita-cita luhur kita tidak peduli dengan segala bentuk rintangan)
–          Mèpèr Hardaning Pancadriya (kita harus selalu menekan nafsu-nafsu)
–          Heneng – Hening – Henung (dalam keadaan diam kita akan memperoleh keheningan dan dalam keadaan hening itulah kita akan mencapai cita-cita luhur).
–          Mulya guna Panca Waktu (suatu kebahagiaan lahir batin hanya bisa kita capai dengan sholat lima waktu)
–          Mènèhana teken marang wong kang wuta, Mènèhana mangan marang wong kang luwé, Mènèhana busana marang wong kang wuda, Mènèhana ngiyup marang wong kang kodanan (Berilah ilmu agar orang menjadi pandai, Sejahterakanlah kehidupan masyarakat yang miskin, Ajarilah kesusilaan pada orang yang tidak punya malu, serta beri perlindungan orang yang menderita)
  1. Terjun langsung ke masyarakat untuk mengatasi berbagai macam masalah


Sunan Muria
Nama Tokoh   : Raden Umar Said
Lahir                : –
Nama Ayah     : (Sunan Kalijaga)
Nama Ibu        : Dewi Saroh
Meninggal       : –
Raden Said merupakan putra Sunan Kalijaga dengan Dewi Saroh. Seperti ayahnya, dalam berdakwah beliau menggunakan cara yang halus, ibarat mengambil ikan tanpa  membuat kotor airnya. Itulah cara yang ditempuh untuk mengajarkan agama Islam di sekitar Gunung Muria. Tempat tinggal Raden Said berada di gunung Muria yang salah satu puncaknya bernama Colo. Letaknya adalah di sebelah utara kota Kudus. Sasaran dakwah beliau adalah para pedagang, nelayan, dan rakyat jelata. Beliau satu-satunya wali yang tetap mempertahankan kesenian gamelan dan wayang sebagai alat dakwah untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam. Dan beliau pula yang menciptakan tembang Sinom dan Kinanti.
Sunan Muria adalah Wali yang sakti dan kuat. Hal itu dapat dibuktikan dengan letak tempat tinggalnya yang berada diatas gunung. Tangga menuju ke atas melalu tangga bisa sampai 750 meter lebih. Keterampilan yang dimiliki Sunan Muria adalah bercocok tanam, berdagang dan melau.. Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530). Dia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah yang sangat rumit sekalipu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Pati dan Kudus.
Cara Berdakwah
Beliau berdakwah sama seperti ayahnya, yaitu memakai cara yang halus dengan membaur dengan masyarakat.
 Peninggalan-Peninggalan Sunan Muria
  1. Masjid Muria Kudus
  2. Tembang Sinom dan Kinanti



Sunan Kudus
Nama Tokoh   : Raden Ja’far Shodiq
Lahir               : Sekitar 1500 Masehi
Nama Ayah     : H. Raden Usman (Sunan Ngudung, kawasan utara Blora)
Nama Ibu        : Syarifah (Adik Sunan Bonang)
Meninggal       : 1550 Masehi
 Latar Belakang Sunan Kudus
Ja’far Shodiq belajar agama dengan ayahnya sendiri. Selain belajar dengan ayahnya, Ja’far Shodiq juga belajar kepada Kyai Telingsing dan Sunan Ampel. Kyai Telingsing merupakan ulama China yang datang ke tanah Jawa bersama Cheng Hoo. Cheng Hoo merupakan Laksamana Jendral dari China yang ingin menyebarkan agama Islam dan membuat tali persaudaraan dengan orang Jawa.
Raden Ja’far Shodiq dapat mewarisi kepribadian orang China selama berguru dengan Kyai Telingsing. Semenjak saat itu, Ja’far Shodiq memiliki kepribadian yang tekun dan disiplin dalam meraih suatu keinginan. Salah satu keinginan Raden Ja’far Shodiq adalah berdakwah menyebarkan agama Islam di tengah-tengah masyarakat yang masih beragama Hindu dan Budha. Setelah selesai berguru dengan Kyai Telingsing, Raden juga berguru dengan Sunan Ampel selama beberapa tahun di Surabaya.
Kisah Perjuangan Sunan Kudus
Ayah Raden Ja’far Shodiq merupakan pemimpin pasukan Majapahit. Ayah Sunan Kudus juga menjadi Senopati Demak yang dijuluki sebagai Sunan Ngudung. Namun, Sunan Ngudung gugur dalam pertempuran yang sengit antara pasukannya dengan Raden Husain atau Adipati Terung dari Majapahit. Sunan Kudus akhirnya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Senopati Demak.
Walau menjadi Senopati di Demak, Raden Ja’far Shodiq tetap melanjutkan dakwahnya di daerah Kudus dan sekitarnya. Perjuangan Raden Ja’far Shodiq dalam dakwahnya adalah mengutamakan sikap tenang dan cara yang halus. Cara tersebut ditempuhnya agar masyarakat tidak terpaksa untuk menerima ajaran-ajaran yang diberikan Ja’far Shodiq. Ja’far Shodiq juga seorang ulama yang suka mengembara. Beliau pernah mengembara sampai ke tanah suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Ketika Sunan Kudus berada di Mekkah, ada seorang penguasa mencari orang yang mampu menghilangkan wabah penyakit pada saat itu dengan imbalan sebuah hadiah. Sayangnya banyak Ulama yang gagal untuk menghentikan wabah tersebut. Setelah Ja’far Sodiq mendengar kabar tersebut, Beliau menghadap penguasa itu.
Kemudian Sunan Kudus dipersilahkan melaksanakan niatnya. Akhirnya Sunan Kudus berdoa dan membaca amalan-amalan ditempat tersebut. Tidak lama kemudian wabah penyakit tersebut langsung hilang. Bahkan warga yang sakit karena wabah tersebut tiba-tiba sembuh dengan cepat.

 Cara Berdakwah
Dalam menyampaikan dakwah, Raden Ja’far Shodiq juga menerapkan strategi dakwah yang diterapkan Sunan Muria, Sunan Kalijaga, Sunan Bonang dan Sunan Gunung Jati.
Selain mempunyai strategi yang sama, Sunan Kudus juga mempunyai strategi tersendiri dalam berdakwah, antara lain :
  1.  Mendekati Masyarakat Hindu
Cara ini sangat sulit dilakukan karena masyarakat Hindu masih memegang teguh kepercayaan mereka. Tapi cara ini tetap dilakukan agar Masyarakat Hindu masuk ke agama Islam. Sunan Kudus mengajarkan toleransi yang tinggi dalam agama Islam kepada masyarakat Hindu. Sehingga umat Hindu tertarik untuk masuk ke agama Islam. Ajaran toleransi tersebut adalah menghormati sapi yang dikramatkan oleh umat Hindu. Selain itu, Sunan Kudus juga membangun menara masjid yang hampir sama dengan bangunan candi Hindu.
  1. Mendekati Masyarakat Budha
Setelah Masjid dibangun, Sunan Kudus membuat sebuah tempat wudhu yang berbentuk pancuran sebanyak delapan buah. Setiap pancuran diberi arca Kebo Gumarang yang dihormati umat Budha. Setelah umat Budha melihat arca tersebut, mereka penasaran dan masuk ke area masjid. Setelah masuk ke masjid, mereka terpengaruh dengan penjelasan Sunan Kudus. Akhirnya mereka masuk ke agama Islam.
  1. Mengubah Inti Ritual Mitoni (Selametan)
Acara Selametan Mitoni merupakan acara yang sejak dulu disakralkan oleh masyarakat Hindu-Budha. Inti dari acara Mitoni adalah bersyukur atas dikaruniai seorang anak. Namun, masyarakat Hindu-Budha dulu tidak bersyukur kepada Allah SWT, melainkan kepada patung-patung dan arca. Disinilah tugas Sunan Kudus untuk meluruskan inti dari acara tersebut. Sunan Kudus tidak menghapus Selametan dalam kebiasaan masyarakat. Tapi, Sunan kudus meluruskan acara mitoni menuju ke arah Islami.
Peninggalan-Peninggalan Sunan Kudus
  1. Masjid dan Menara Kudus
  2. Keris Cintoko
  3. Dua tombak Sunan Kudus
  4. Tembang Asmaranda
Sunan Bonang
Nama Tokoh   : Syekh Maulana Makdum Ibrahim (Raden Makdum Ibrahim) Lahir                : Tahun 1465 Masehi Nama Ayah     : Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) Nama Ibu        : Nyai Ageng Manila (Dewi Condrowati) Meninggal       : Tahun 1525 Masehi
Latar Belakang Sunan Bonang
Sunan Bonang merupakan putra dari Sunan Ampel yang diberi perintah untuk melaksanakan dakwah mengajarkan agama Islam di daerah Rembang, Lasem dan daerah Tuban.
Raden Makdum dipercaya Sunan Ampel untuk menjadi wali yang besar suatu saat nanti. Sehingga Raden Makdum dilatih sejak kecil dalam masalah agama Islam oleh Ayahnya. Berkat ilmu yang ditularkan oleh ayahnya, Raden Makdum Ibrahim sudah mulai berdakwah pada usia remaja di negeri Pasai bersama Raden Paku. Selain mereka berdakwah di negeri Pasai, mereka juga berguru kepada beberapa Ulama Tasawuf besar di negeri Pasai.
Kisah Perjuangan Sunan Bonang
Setelah mereka berguru di negeri Pasai, Raden Makdum dan Raden Paku pulang ke tanah Jawa. Setelah sampai di tanah Jawa, mereka berpisah menuju daerahnya masing-masing. Raden Paku kembali ke Gresik dan mendirikan sebuah pesantren di daerah Giri. Sehingga Raden Paku dikenal dengan sebutan Sunan Giri.
Raden Makdum akhirnya melanjutkan perintah ayahnya untuk berdakwah di daerah Rembang, Tuban dan Lasem. Perjuangan Sunan Bonang tidak terlalu sulit karena masyarakat langsung menerima ajaran yang diajarkan oleh Raden Makdum. Strategi yang dipakai Raden Makdum adalah menggunakan media kesenian untuk berdakwah.
Raden Makdum selalu berdakwah walau usianya sudah tua. Sehingga suatu saat berdakwah di Pulau Bawean Sunan Bonang meninggal dunia. Kabar ini langsung disebarluaskan kepada seluruh masyarakat Jawa. Murid-murid asuhan Sunan Bonang berdatangan dan memberikan penghormatan terakhir untuk Sunan Bonang.
Beliau hendak dimakamkan di daerah Bawean atas keinginan murid-murid Sunan Bonang yang berasal dari Bawean. Tapi murida yang berasal dari Madura meminta agar Sunan Bonang dimakamkan didekat makam ayahnya, yaitu Sunan Ampel di Surabaya. Bahkan murid dari Madura tidak mau kalah dalam mengasuh jenazah Sunan Bonang. Jenazah yang sudah dibungkus dari Bawean akhirnya dibungkus lagi dengan kain kafan dari Surabaya.
Namun pada malam hari murid dari Madura dan Surabaya memakai ilmu Sirep untuk membuat ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Saat mengangkut jenazah Sunan Bonang ke kapal, kain kafan yang satu tertinggal di Bawean. Kemudian kapal berlayar menuju Surabaya. Tapi saat di perairan Tuban, kapal tidak bisa bergerak. Sehingga jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban, yaitu sebelah barat Masjid Jami’ Tuban.
Sementara itu, kain kafan yang tertinggal di Bawean juga ada jenazah Sunan Bonang. Orang-orang Bawean pun mengebumikan jenazah Sunan Bonang dengan khidmat.
Dengan terjadinya hal seperti itu, jenazah Sunan Bonang dinyatakan ada dua. Inilah bukti kekuasaan Allah atas segalanya. Beliau diberi kelebihan dari Allah dengan memiliki dua jenazah sehingga tidak ada permusuhan diantara murid Sunan Bonang.
Cara Berdakwah
  1. Menerapkan Kebijaksanaan dalam Berdakwah
  2. Menggunakan Media Karya Seni untuk Berdakwah
Musik merupakan media yang dilakukan Sunang Bonang untuk menyampaikan teori-teori Islam kepada masyarakat. Alat musik yang digunakan Sunan Bonang berupa gamelan yang diberi nama Bonang.
Beliau membunyikan alat musiknya sangat merdu dan menarik simpati setiap orang yang mendengarnya. Sehingga Sunan bonang tinggal mengisi ajaran-ajaran Islam kepada mereka.
  1. Menggunakan Media Karya Sastra untuk Berdakwah
Sunan Bonang juga menciptakan sebuah karya sastra yang disebut Suluk. Sehingga karya sastra tersebut dianggap sebagai karya sastra yang sangat hebat sampai sekarang. Karya sastra tersebut disimpan di Universitas Leiden, Belanda.











Sunan Giri

Nama Tokoh   : Raden ‘Ainul Yaqin ( Raden Paku)
Lahir                : Blambangan, 1442 Masehi
Nama Ayah     : Maulana Ishaq
Nama Ibu        : Dewi Sekardadu
Meninggal       : –
 Latar Belakang Sunan Giri
Raden Paku merupakan putra dari seorang mubaligh Islam dari Asia Tengah yang menikah dengan Dewi Sekardadu. Dewi Sekardadu adalah putri Prabu Menak Sembuyung sang penguasa wilayah Blambangan. Kelahiran Raden Paku diangap membawa petaka berupa wabah penyakit di wilayah Blambangan, Pasai. Sehingga Dewi dipaksa Prabu Menak Sembuyung (ayahnya) untuk membuang Raden Paku yang masih bayi. Dewi Sekardadu akhirnya membuang putranya ke Selat Bali.
Kemudian Raden Paku ditemukan oleh sekelompok awak kapal, yaitu Sabar dan Sobir. Bayi tersebut dibawa ke daerah Gresik. Saat tiba di Gresik, Raden Paku  diangkat menjadi anak dari saudagar kapal, Nyai Gede Pinatih. Karena ditemukan di laut, Raden Patah saat itu dinamakan Joko Samudra.
Ketika masa remaja, Joko Samudra diperintahkan oleh ibunya untuk berguru kepada Sunan Ampel. Setelah tidak lama mengajar Raden Paku, Sunan Ampel mengetahui siapa Joko Samudra yang sesungguhnya. Sehingga Joko Samudra bersama Sunan Bonang dikirim menuju Pasai untuk mendalami ajaran Islam. Setelah sampai di Pasai, mereka diterima oleh Maulana Ishaq yaitu ayah Joko sendiri. Disinilah Joko Samudra mengetahui nama dia yang sesungguhnya, yaitu Raden Paku. Raden Paku juga mengetahui asal mula kenapa dia dibuang dari Blambangan.
 Kisah Perjuangan Sunan Giri
Setelah tinggal di Pasai selama tiga tahun, Raden Paku dan Sunan Bonang dipersilahkan kembali ke tanah Jawa. Ayahnya memberikan sebuah bungkusan kain kecil yang berisi tanah. Ayah Raden Paku berpesan kepada anaknya untuk membangun sebuah pesantren di Gresik dengan mencari tanah yang sama persis dengan tanah yang ada di bungkusan itu. Akhirnya Mereka berdua kembali ke tanah Jawa dan melaporkan semua pembelajarannya kepada Sunan Ampel. Lalu Sunan Ampel memerintahkan Sunan Bonang untuk berdakwah di Tuban, sedangkan Raden Paku diperintahkan untuk pulang ke Gresik.
Setelah tiba di Gresik, Raden Paku mendirikan sebuah pesantren. Raden Paku memulai perjalanannya mencari tempat yang cocok untuk membangun pesantren sesuai pesan ayahnya. Setelah berjalan jauh, Raden Paku sampai di sebuah tempat yang sejuk dan membuat hatinya damai. Dia mencocokkan tanah yang dibawa dengan tanah ditempat itu. Ternyata hasilnya sama persis. Kemudian Raden Paku mendirikan sebuah pesantren di tempat tersebut. Desa tersebut bernama desa Sidomukti. Karena pesantren terletak di dataran tinggi, maka pesantren tersebut diberi nama Pesantren Giri. Karena Giri bermakna sebagai gunung (dataran tinggi).
Atas berkat dukungan istri-istri Raden Paku dan ibunya, pesantren Giri bisa terkenal sampai ke seluruh nusantara hanya dalam waktu 3 tahun. Raden Paku memiliki 2 orang istri yaitu Dewi Murtasiha (Putri dari Sunan Ampel) dan Dewi Wardah (Putri Ki Ageng Bungkul).
Atas terkenalnya pesantren Giri, banyak murid-murid baru masuk ke pesantren Giri. Hal ini membuat semakin mudah Sunan Giri untuk berdakwah.
Sunan Giri sangat berpengaruh besar bagi kerajaan Islam di Jawa maupun di luar Jawa. Sunan Giri juga mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Giri Kedaton. Giri Kedaton atau Kerajaan Giri bertahan selama 200 tahun. Setelah Sunan Giri meninggal, beliau digantikan keturunannya yaitu :
  1. Sunan Dalem
  2. Sunan Sedomargi
  3. Sunan Giri Prapen
  4. Sunan Kawis Guwa
  5. Panembahan Ageng Giri
  6. Panembahan Mas Witana Sideng Rana
  7. Pangeran Singonegoro (bukan keturunan Sunan Giri)
  8. Pengeran Singosari
Pangeran Singosari ini berjuang keras mempertahankan Giri Kedaton dari serangan Sunan Amangkurat II dengan bantuan dari VOC dan Kapten Jonker. Akhirnya perjuangan Pangeran Singosari membuahkan hasil yang tidak terlalu buruk. Sesudah pangeran Singosari wafat pada tahun 1679 Masehi, lenyap sudah kekuasaan Giri Kedaton. Walaupun lenyap, Sunan Giri tetap dikenang sebagai Ulama Besar Wali Songo sepanjang masa.
 Cara Berdakwah
Sunan Giri berdakwah melalui cara ceramah-ceramah di masyarakat dan di pesantren Giri. Selain ceramah, beliau juga menyampaikan ajaran-ajaran agama Islam melalui permainan tradisional anak-anak, seperti Jelungan dan Cublak Suweng.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar